Selasa, Juli 07, 2009

KPU Sumenep Nyatakan Kondisi Gawat Darurat

Moh Hartono - detikSurabaya
Surabaya - Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan diperbolehkannya masyarakat untuk datang ke TPS dengan bekal KTP pada pilpres 2009, persediaan logistik berupa surat suara (SS) menjadi perhatian serius.

Bahkan KPU Sumenep juga menetapkan sebagai kondisi gawat darurat dan perlu antisipasi secepatnya guna mencegah hal yang tidak diinginkan seperti tidak tersedianya surat suara di TPS tertentu, lebih-lebih di kepulauan terjauh seperti Masalembu dan Kangean yang tidak bisa ditempuh secara cepat.

Jumlah surat suara (SS) yang diterima KPU Kabupaten Sumenep sesuai dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebanyak 878.734 orang dan ditambah 2 persen sebagai SS cadangan. Bila, penambahan pemilih yang ber-KTP melebihi dari SS cadangan tersebut maka sudah dapat dipastikan petugas PPS akan kelimpungan.

Anggota KPU Kabupaten Sumenep, Moh Ilyas mengatakan, sebagai bentuk antisipasi kekurangan surat suara (SS) yakni petugas di TPS hendaknya selalu berkoordinasi dengan TPS terdekat.

"Bila terjadi kekurangan surat suara di TPS tertentu, maka bisa menggunakan SS cadangan atau berkoordinasi dengan TPS lain. Dengan catatan tetap membuat berita acara," tegas Ilyas pada detiksurabaya.com di kantornya, Jalan Asta Tinggi, Kebonagung, Sumenep, Selasa (7/7/2009).

Ilyas mengaku masih belum bisa memprediksi berapa warga yang tidak masuk dalam DPT tapi memiliki KTP. Rencananya, hari ini akan mengumpulkan kembali para PPK untuk mengetahui seberapa besar kemungkinan kebutuhan SS.

"Jadi, hari ini akan evaluasi kembali kemungkinan berapa warga yang memiliki KTP tapi tidak masuk dalam DPT," ungkapnya.

KPU Sumenep juga masih menunggu surat edaran dari KPU Pusat tentang diperbolehkannya warga mendatangi TPS dengan menggunakan KTP.

Read more...

Kamis, Juli 02, 2009

Menakertrans: Pengiriman TKI Tak Harus Distop Total


Kamis, 02/07/2009 12:14 WIB
Muhammad Taufiqqurahman - detikNews

Jakarta - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Erman Suparno menilai pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk bekerja di luar negeri tidak harus dihentikan secara keseluruhan. Sebab, setiap warga negara punya hak untuk bekerja di luar negeri.

"Ketika semua harus dihentikan, itu saya terus terang saja bahwa warga negara kita punya hak, ada hak warga negara yang mau bekerja di luar negeri," kata Erman Suparno di kantor Depnakertrans, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Kamis (2/7/2009).

Menurut Erman, berbagai kekerasan yang terjadi terhadap para TKI, terutama perempuan tidak harus ditanggapi secara emosional.

"Kasus memang harus kita respon dan kita menuntut atas kasus itu," ujar dia.

Lebih lanjut, Erman mengimbau kepada masyarakat yang akan bekerja di luar negeri agar menjalankan prosedur ketenagakerjaan.

"Boleh bekerja di luar negeri tapi tolong disiplin. Jangan main ilegal karena di sana berat. Undang-undangnya beda, masyarakat beda, dan jangan gampang tergiur," paparnya.

Erman juga membantah bahwa opini masyakat yang berkembang tentang tidak adanya lapangan kerja yang tersedia di dalam negeri.

"Setiap Job Fair tiap 3 bulan diadakan di dalam negeri masih ada lowongan 70% tidak terisi. Jangan ngomong tidak ada pekerjaan di dalam negeri," cetus Erman.

Oleh karenanya, Erman mengimbau agar pendidikan masyarakat difokuskan pada keterampilan dan pengolahan sumber daya alam dalam negeri.

"Yang masalah cuma pada TKI kita. Kalau profesional yang bekerja di luar negeri kan tidak ada masalah," pungkasnya.

(fiq/aan)

Read more...

TKI di Malaysia Tewas Terjatuh dari Lantai 12

Rabu, 1 Juli 2009
Posts by: Sugeng Wibowo
MADIUN | SURYA Online - Lukman Fathony (26), tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Desa Mojorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur (Jatim), tewas setelah terjatuh dari lantai 12 proyek bangunan di Johor, Malaysia, Senin (29/6). Saat ini pihak keluarga kini masih menunggu kedatangan jenasah Lukman.

Abdus Syukur (61), ayah korban, Rabu (1/7), mengatakan, dirinya mengetahui anaknya meninggal setelah ditelepon temannya yang bernama Robert.

“Katanya anak saya jatuh dari lantai 12 proyek bangunan. Namun mengapa dia bisa sampai terjatuh belum jelas,” katanya.

Lukman yang hanya lulusan sekolah dasar itu sudah bekerja di Malaysia sejak satu tahun yang lalu. Keberangkatannya ke Malaysia merupakan keberangkatan kedua kalinya. Sebelumnya, dia juga pernah bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia selama dua tahun.

“Setelah dua tahun itu, dia pulang, libur satu bulan lalu berangkat lagi. Dia bilang di Madiun sulit cari pekerjaan, kalau di sana mendapatkan pekerjaan mudah, apalagi ibunya juga bekerja sebagai TKI di Arab Saudi sejak tiga tahun yang lalu. Karena itu, dia memilih bekerja di luar Indonesia lagi,” cerita Abdus.

Keberangkatannya ke Malaysia melalui Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTJI) PT Jati Surabaya. Informasi yang didapat Abdus, sisa gaji dan uang santunan dari perusahaan sebesar 6.500 ringgit atau senilai sekitar Rp 18 juta akan diberikan pada Abdus. Namun sampai kemarin uang ini belum diterimanya.

Berdasarkan catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Madiun, peristiwa meninggalnya TKI asal Kabupaten Madiun ini merupakan peristiwa keempat tahun 2009 ini. Tiga TKI Lainnya meninggal karena sakit. antonius ponco a/kcm

Read more...

Rabu, Juli 01, 2009

Puluhan TKI Ilegal Dicambuki Dulu Sebelum Diusir Pemerintah Malaysia



Rabu, 1 Juli 2009 06:14 WIB
(ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)
Tanjungpinang (ANTARA News) - Sebanyak 35 orang tenaga kerja Indonesia (TKI) dari 152 orang yang diusir Pemerintah Malaysia melalui Pelabuhan Sri Bintan Pura Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau mengaku dicambuk sebelum diusir Selasa malam.

"Kami dicambuk rata-rata dua kali dan dipenjarakan dua bulan," ujar salah seorang TKI ilegal Sayudi asal Jember Jawa Timur.

Selain Sayudi di antara TKI ilegal yang ikut dicambuk dua kali adalah Hosman asal Madura, Saleh asal Probolinggo, Rohadi asal Jawa, Makruf asal Jawa, Radit asal Madura, dan Musliadi asal Aceh yang dicambuk sebanyak tiga kali dan penjara empat bulan, serta puluhan lainnya yang mendapat perlakuan sama.

"Sampai saat ini bekas luka dipantat saya belum kering," ujar Saleh sambil menengok celananya yang masih banyak bercak darah dan nanah.

"Kami diperlakukan seperti binatang, salah sedikit kami dipukul dan dicambuk," kata saleh.

Diantara TKI yang dicambuk tersebut tampak beberapa orang yang masih meringis kesakitan akibat bekas luka yang masih belum kering dan ada yang sengaja membalutnya dengan kain sarung agar tidak bergesekan dengan celana saat berjalan.

Mereka mengatakan hingga saat ini masih banyak rekan-rekannya yang mendapatkan perlakuan tidak manusiawi di penjara Malaysia.

"Sekarang yang di penjara masih banyak dan mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh petugas penjara Malaysia," kata Musliadi.

Selain 152 TKI ilegal yang terdiri dari 119 laki-laki dan 33 perempuan ini juga terdapat 8 orang bayi.

Kepala Lintas Batas Imigrasi Kota Tanjungpinang Ispaisyah mengatakan 152 orang TKI dan 8 orang bayi tersebut akan ditempatkan di penampungan TKI bermasalah Kota Tanjungpinang sebelum dipulangkan ke daerah asal mereka masing-masing.(*)

Read more...

Agiel Surya Pratama Putra

Agiel Surya Pratama Putra

PeSaN & ChATiNg


ShoutMix chat widget

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP